Selasa, 30 Desember 2014

Permasalahan Fiqih di daerah Purnama

Permasalahan Fiqih di daerah Purnama
Di daerah perkotaan tepatnya di daerah Purnama yang saat ini menjadi tempat bermukim saya, meskipun rumah yang selama ini bukan milik pribadi. Tapi sudah puluhan tahun saya tinggal di daerah ini. Banyak macam permasalahan yang timbul di daerah ini khususnya diantaranya yaitu permasalahan tentang thaharah atau bersesuci yang mana dalam thaharah ini sangat banyak macamnya nah yang menjadi permasalah di daerah ini adalah cara mereka mencuci pakaian. Mungkin hal ini dianggap remeh oleh senagian orang namun ini sangat berkaitan erat dengan suatu ibadah shalata yang mereka kerjakan nantinya.

makalah ilmu kalam

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Kita mengetahui bahwa ilmu kalam adalah disiplin ilmu keislaman yang banyak mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Tuhan. Karena ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an yang selama ini kita baca dan menjadi panutan hidup umat manusia adalah hadist Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad namun ada pula yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah murni Qadim dari Allah semata yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril.Jika pembicaraan ilmu kalam hanya berkisar pada keyakinan-keyakinan yang harus di pegang oleh umat islam, tanpa argumentasi rasional, ilmu ini lebih spesifik mengambil bentuk sendiri dengan istilah ilmu tauhid. Baik ilmu kalam,filsafat, maupun tasawuf berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam, dengan metodenya berusaha mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari ilmu kalam ?
2.      Apa pengertian dari ilmu filsafat?
3.      Apa pengertian dari ilmu tasawuf?
4.      Apa persamaan dari ilmu kalam, filsafat dan ilmu tasawuf?
5.      Apa perbedaan dari ilmu kalam, filsafat dan ilmu tasawuf?
6.      Bagaimana hubungan antara ilmu kalam dengan ilmu filsafat?
7.      Bagaimana hubungan antara ilmu kalam dengan ilmu tasawuf?






C. Tujuan  

1.      Untuk memahami pengertian dari ilmu kalam
2.      Untuk memahami pengertian dari ilmu filsafat
3.      Untuk memahami pengertian dari ilmu tasawuf
4.      Untuk mengetahui persamaan dari ilmu kalam, filsafat dan ilmu tasawuf
5.      Untuk mengetahui perbedaan dari ilmu kalam. Filsafat dan ilmu tasawuf
6.      Untuk memahami hubungan antara ilmu kalam dengan ilmu filsafat
7.      Untuk memahami hubungan antara ilmu kalam dengan ilmu tasawuf





BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ilmu Kalam
            Ilmu kalam biasa disebut dengan beberapa nama, antara lain ushuluddin, ilmu tauhid, Al-Fiqh Al-Akbar dan teologi Islam. Disebut ilmu ushuluddin karena ilmu ini membahas pokok-pokok agama (Ushuluddin). Disebut ilmu tauhid karena ilmu ini membahas keesaan Allah SWT. Didalamnya dikaji pula tentang asma’ (nama-nama) dan a’fal (perbuatan-perbuatan) Allah yang wajib, mustahil dan jaiz. Ilmu tauhid sebenarnya adalah ilmu yang membahas tentang keesaan Allah SWT dan hal-hal yang berkaitan dengan-Nya. Al-Fiqh Al-Akbar merupakan istilah bagi Abu Hanifah memberikan nama ilmu ini. Didalamnya dibahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan istilah keyakinan atau pokok-poko agama atau ilmu tauhid. Sedangkan teologi Islam merupakan istilah lain dari ilnu kalam. Teologi merupakan disiplin ilmu yang berbicara tentang kebenaran wahyu serta independen filsafat dan ilmu pengetahuan.
            Ilmu kalam adalah disiplin ilmu yang membahas tentang Dzat dan sifat-sifat Allah serta eksistensi semua yang mukmin, mulai yang berkenaan dengan masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam. Stressing akhirnya memproduksi ilmu ketuhanan secara filosofis. Ilmu kalam juga dapat didefinisikan sebagai disiplin ilmu mengandung argumentasi-argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.1
B.  Pengertian Ilmu Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa yunani philosophia. Yang berarti adalah cinta philia  kebijaksanaan ( sophia ). Menurut analisis, kata ini muncul dari mulut phytagoras yang hidup diyunani kuno pada abad ke-6 sebelum masehi. Oleh karena itu, orang yang mencintai kebijaksanaan disebut sebagai philosophos atau filsuf. Orang yang mencintai kebijaksanaan bukanlah orang yang sudah memiliki
1 Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. Hal 19-20
kebijaksanaan, melainkan orang yang terus berupaya mencari kebijaksanaan.
Tujuan utama dari penyelidikan filosofis adalah untuk memastikan karakter tertinggi dari realitas. Realitas adalah eksistensi yang mendasari semua yang nampak, tetapi realitas benar-benar merupakan kualitas yang tidak dapat dilukiskan. Kesulitan mendiskusikan pokok-pokok bahasan filsafat, sekarang menjadi nyata. Harus berhadapan dengan alam sebagai suatu keseluruhan dan mencoba untuk menyelidiki hakikat yang ada yang mendasari alam dimana saja, disemua waktu maupun keadaan. Pokok bahasan filsafat begitu luas bagi seseorang bahkan bagi sekelompok orang yang mengadakan penyelidikan secara adekuat.2
Adapun titik temu antara agama dan filsafat adalah keduanya pada dasarnya mempunyai kesamaan, yaitu memiliki tujuan yang sama, yakni mencapai kebenaran yang sejati. Agama yang dimaksud adalah agama samawi, yaitu agama yang diwahyukan oleh Tuhan kepada Nabi dan Rasul-Nya. Dibalik persamaan itu terdapat perbedaan pula. Dalam agama, ada hal-hal yang penting, misalnya Tuhan, kebijakan, baik dan buruk, surga dan neraka, dan lainnya. yang juga diselidiki oleh filsafat karena hal-hal tersebut ada atau paling tidak mungkin ada, karena objek penyelidikan filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada.
Alasan filsafat menerima kebenaran bukanlah kepercayaan, melainkan penyelidikan, hasil pikiran belaka. Filsafat tidak mengingkari atau mengurangi wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu, tetapi ia tidak mendasarkan penyelidikannya atas wahyu. Lapangan filsafat dan agama dalam beberapa hal mungkin sama, tetapi dasarnya amat berlainan.3


2 H.G. Sarwar. Filsafat Al-Qur’an. Hal 10-11
3 Abdul Rozak, Filsafat Tasawuf. Hal 21
C. Pengertian Ilmu Tasawuf
            Secara lughat, tasawuf berasal dari bermacam-macam kata. Menurut Hamka dalam buku Tasawuf Modern, tasawuf berasal dari berbagai kata seperti shifa berarti “suci bersih”, shuf berarti “bulu binatang” dan shufah yang berarti “golongan sahabat Nabi yang memisahkan diri di suatu tempat terpencil disamping maskid Nabi”. Apabila kita perhatikan dari bahasa Arab, maka kata tasawuf berasal dari tasrif: tasawwaf-yatasawwafu-tasawwafun. Misalnya, tasawwafar-rajulu artinya “seorang laki-laki sedang bertasawuf”
            Dilihat dari aspek bahasa, tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban demi kebaikan dan selalu bersikap bijaksana. Sikap dan jiwa demikian itu pada hakikatnya merupakan akhlak yang mulia.
            Kemudian, pengertian tasawuf secara definitif, banyak dilontarkan oleh para ahli. Beberapa pengertian menurut pemikir dan cendikiawan Muslim adalah :
1.   Tasawuf adalah istilah khusus dari mistisisme dalam Islam. Tujuan mistisisme adaah mencari hubungan langsung dengan Allah. Intisari mistisisme termasuk didalam tasawuf ialah kesadaran tentang adanya komunikasi dan dialog antara manusia dengan Allah SWT.
2.   Menurut beberapa ahli bahasa dan sejarah dewasa ini perkataan sufi bukan berasal dari bahasa arab, melainkan dari bahasa Yunani lama yang telah dibahasa arabkan. Yaitu berasal dari kata theosofi yang artinya adalah ilmu ketuhanan kemudian diucapkan dengan lidah orang Arab sehingga berubah menjadi tasawuf.4
D. Persamaan antara Ilmu Kalam, Filsafat dan Ilmu Tasawuf
            Ilmu kalam, filsafat dan tasawuf mempunyai objek kajian yang mirip. Objek kajian ilmu kalam adalah ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan-Nya. Objek kajian filsafat pun adalah msalah ketuhahan disamping.
4 M.Sholihin. Akhlak Tasawuf. Hal 150-151

masalah alam, manusia, dan segala sesuatu yang ada. Objek kajian tasawuf adalah Tuhan, yaitu upaya-upaya pendekatan terhadap-Nya. Jadi, dari aspek objeknya, ketiga ilmu itu sama-sama membahas masalah yang berkaitan dengan ketuhahan.
            Argumentasi filsafat sebagaimana ilmu kalam dibangun di atas dasar logika. Oleh karena itu, hasil kajiannya bersifat spekulatif (dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, riset dan eksperimental). Kerelativan hasil karya logika telah menjadikan kebenaran yang dihasilkan menjadi beragam.
            Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hasil yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau ilmu pengetahuan karena diluar atau diatas jangkauannya) atau tentang Tuhan. Sementara itu, ilmu tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.5
E.  Perbedaan antara Ilmu Kalam, Filsafat dan Ilmu Tasawuf
            Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi naqliah untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, sangat tampak nilai-nilai apologinya. Ilmu kalam pada dasarnya menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan dialog keagamaan. Sebagai sebuah keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional. Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktik dan pelaksanaan ajaran agama serta pengalaman keagamaan  yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.
 5 Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. Hal 51-52
            Sementara itu, filsafat adalah ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakannya adalah metode rasional. Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menualangkan (mengembarakan atau menelanakan) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral (menyeluruh) serta universal (mengalam) tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya yang bernama logika. Peranan filsafat sebagaimana dikatakan oleh Socrates adalah upaya berpegang teguh pada ilmu pengetahuan melalui usaha menjelaskan berbagai konsep.
            Berkenaan dengan keragaman kebenaran yang dihasilkan oleh kerja logika, didalam filsafat disebut kebenaran korespondensi. Dalam pandangan korespondesi, kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan fakta-fakta dengan data fakta. Dengan bahasa yang sederhana, kebenaran adalah persesuaian antara yang ada di dalam rasio dengan kenyataan yang sebenarnya di alam nyata. Di samping kebenaran korespondensi, di dalam filsafat juga dikenal kebenaran koherensi. Dalam pandangan koherensi, kebenaran adalah kesesuaian antara pertimbangan baru dengan pertimbangan yang telah diakui kebenarannya secara umum dan permanen. Jadi, kebenaran baru akan dianggap tidak benar jika tidak sesuai dengan kebenaran yang selama ini dianggap benar oleh ulama umum. Di samping dua kebenaran diatas, di dalam filsafat dikenal juga kebenaran pragmatik. Dalam pandangan pragmatisme, kebenaran adalah sesuatu yang bermanfaat (utility) dan mungkin dapat dikerjakan (workability) dengan dampaknya yang memuaskan. Jadi, sesuatu akan dianggap tidak benar jika kebenaran itu tidak tampak manfaatnya secara nyata dan sulit untuk dikerjakan.
            Sementara, ilmu tasawuf adalah ilmu yang lebih menekankan rasa daripada rasio. Oleh karena itu, antara filsafat dan tasawuf sangat distingsif. Sebagai ilmu yang prosesnya diperoleh dari rasa, ilmu tasawuf sangat subjektif sifatnya, yaitu sangat berkaitan dengan pengalaman seseorang. Resikonya, bahasa tasawuf sering tampak aneh dilihat dari aspek rasio karena pengalaman rasa sangat sulit dibahasakan. Pengalaman rasa lebih mudah dirasakan langsung oleh orang yang ingin memperoleh kebenaran nya dan mudah digambarkan dengan bahasa lambang, sehingga sangat interpretable (dapat diinterpretasikan bermacam-macam).
            Sebagian pakar mengatakan bahwa metode ilmu tasawuf adalah intuisi atau ilham atau inspirasi yang datang dari Tuhan. Kebenaran yang dihasilkan ilmu tasawuf dikenal dengan istilah kebenaran “Hudhuri”. Suatu kebenaran yang objeknya datang dari dalam diri subjek sehingga dalam sains dikenal istilah objeknya swa-objek atau objeknya tidak objektif. Ilmu seperti ini dalam sains dikenal dengan ilmu yang diketahui bersama atau tacit knowledge bukan ilmu proposional.
            Dalam pertumbuhannya, ilmu kalam (teologi) berkembang menjadi teologi rasional dan teologi tradisional. Sementara filsafat berkembang menjadi sains dan filsafat. Sains berkembang menjadi sains kealaman, sosial dan humaniora, sedangkan filsafat berkembang menjadi filsafat klasik, pertengahan dan modern. Tasawuf berkembang menjadi tasawuf praktis dan tasawuf teoritis.6
F.  Hubungan antara Ilmu Kalam dengan Filsafat
Keduannya sama-sama berupaya untuk mengantarkan manusia memahami keberadaan Allah, sehingga bersedia melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Upaya untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan itulah yang dapat mengantarkan manusia pada kesempurnaan jiwa.
Dan dapat disimpulkan bahwa, filsafat lebih bersifat teoritis, sementara tasawuf lebih bersifat praktis. Artinya, antara filsafat islam dan tasawuf sama-sama berupaya untuk mengantarkan manusia agar memahami keberadaan Allah. Filsafat sebagai sarana teoritis yang dapat mengantarkan manusia kepada keyakinan praktis. Keyakinan praktis inilah yang menjadi wilayah tasawuf. Jadi, tujuan belajar filsafat islam adalah mencapai wilayah tasawuf.7

6 Rosihon Anwar. Ilmu Kalam. Hal 53-55
7 Abdul Rozak, Filsafat Tasawuf. Hal 57

G. Hubungan antara Ilmu Kalam dengan Ilmu Tasawuf
Kajian ilmu kalam akan lebih terasa maknanya jika diisi dengan ilmu tasawuf.  Sebaliknya, ilmu kalam pun dapat berfungsi sebagai pengendali tasawuf. Jika ada teori-teori dalam ilmu tasawuf yang tidak sesuai dengan kajian ilmu kalam tentang Tuhan yang didasarkan pada Al-Quran dan Al-Hadis, hal ini mesti dibetulkan. Demikian terlihat hubungan timbal balik di antara ilmu tasawuf dan ilmu kalam.8



8 Abdul Rozak, Filsafat Tasawuf. Hal 83
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Baik ilmu kalam, filsafat maupun tasawuf bertujuan sekurang-kurangnya berurusan dengan hasil yang sama, yaitu kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya mencari kebenaran tentang Tuhan dan yang berkaitan dengan-Nya. Filsafat dengan wataknya menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijangkau ilmu pengetahuan karena diluar atau diatas jangkauannya) atau tentang Tuhan. Sementara itu, ilmu tasawuf juga dengan metodenya yang tipikal berusaha menghampiri kebenaran berkaitan dengan perjalanan spiritual menuju Tuhan.
Perbedaan diantara ketiga ilmu tersebut terletak pada aspek metodologinya. Ilmu kalam, sebagai ilmu yang menggunakan logika disamping argumentasi-argumentasi naqliah untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama, sangat tampak nilai-nilai apologinya. Ilmu kalam pada dasarnya menggunakan metode dialektika (jadaliah) dikenal juga dengan dialog keagamaan. Sebagai sebuah keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan-keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argumen-argumen rasional. Sebagian ilmuwan mengatakan bahwa ilmu ini berisi keyakinan-keyakinan kebenaran, praktik dan pelaksanaan ajaran agama serta pengalaman keagamaan  yang dijelaskan dengan pendekatan rasional.





B.     Saran
Diharapkan para mahasiswa dan umumnya pada kita semua, untuk mempelajari ilmu kalam, tasawuf dan filsafat untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan. Dan mengetahui peranan tasawuf, filsafat dan ilmu kalam. Ketiganya sangat berperan penting dalam bidang keilmuan dan sebagai wacana keislaman.
Oleh sebab itu, kita sebaiknya mengetahui secara spesifik perbedaan dan persamaan antara ketigannya. Agar kita, khususnya mahasiswa tidak salah mengartikan tentang ilmu kalam, filsafat dan tasawuf.




DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon dan Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Bandung: CV Pustaka Setia. 2012
Rozak, Abdul , Filsafat Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia. 2010
Sarwar, H.G. Filsafat Al-Qur’an. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Cet 4 1994
Sholihin, M dan Rosyid Anwar. Akhlak Tasawuf. Bandung: Penerbit Nuansa.Cet 1 2005



Makalah Filsafat Dakwah "hidayah"

MAKALAH
FILSAFAT DAKWAH
“HIDAYAH”
DOSEN PENGAMPU : MUH. GITO SAROSO, M. Ag
OLEH :
KRLOMPOK IV
Jumaidi (1133110012)
Iis Marnia (1133110032)
SEMESTER: III

FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN DAKWAH
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PONTIANAK
JL. JEND. SOEPRAPTO NO. 19

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua sebagai insan yang senantiasa ingin menyempurnakan budi pekerti dalam mencapai derajat yang tinggi di sisi-Nya, karena dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudulHidayah, untuk memenuhi kebutuhan mata kuliah Filsafat Dakwah.
Kami  mengucapkan banyak terima kasih kepada al Mukarram Muh. Gito Saroso, M. Ag selaku dosen pembimbing mata kuliah Filsafat Dakwah, yang sangat membantu dan memberikan bimbingan, sehingga makalah ini tersusun.
Kami menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dan perlu penyempurnaan lagi. Untuk itu, kami sangat mengharapkan bantuan kritik dan saran dari semua pihak untuk penyempurnaan makalah ini.





Pontianak, 23 Oktober  2014


                                                                                                            Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam kehidupan inji tidak sedikitpun manusia yang kan terlepaskan dari satu bentuk kata hidayah dan dhalalah. Hidayah yang artinya adalah petunjuk sedangkan dhlalah sendiri adalah kesesatan atau penyesatan. Hidayah sudah sering terdeengar oleh semua kalangan umat islam. Tidak terkecuali remaja masa kini. Disamping itu masih banyak dari kalangan umat islam yang belum memahami secara pasti hidayah itu sendiri dan bagaimana cara memperolehnya.
Hingga sering kali kita mendengar teman ataupun kerabat kita yang sedang larut dalam kemaksiatan, dan ditanya oleh saudaranya mengapa tidak bertaubat, mengapa perilakumu masih seperti ini. Jawaban yang mereka lontarkan sangatlah mudah “masih belum mendapat hidayah”. Jawabanini seolah-olah mengatakan bahwa hidayah itu hak milik Tuhan yang diperuntukkan kepada siapapun hambanya, baik hamba itu ahli ibadah, maupun ahli maksiat. Mereka beranggapan yang memberi mereka petunjuk itu adalah Allah, tanpa harus ia merubah sikapnya.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian hidayah ?
2.    Sebutkan macam-macam hidayah ?
3.    Karakteristik orang yang akan mendapatkan hidayah ?
C.  Tujuan
1.    Untuk memahami makna hidayah sebenarnya seperti apa
2.    Untuk memahami macam-macam hidayah
3.    Untuk memahami siapa saja yang bisa mendapatkan hidayah




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Hidayah
Pada dasarnya kata hidayah ini merupakan bahasa arab yang terambil dari kata hada-yahdi-hadyan, hudan, hidyatan, atau hidayatan. Karena lafadz hidayatan diwa­qof-kan maka dibaca hidayah. Yang artinya petunjuk. Namun secara istilah pengertian hidayah yaitu penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Dalam hal ini Allah pernah berfirman di dalam sebuah ayat suci al-Qur’an-Nya yang artinya : “Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah : 5).
Hidayah itu ialah petunjuk yang dikurniakan Allah kepada manusia untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam menganjurkan umatnya supaya sentiasa memohon hidayah petunjuk daripada Allah ke arah jalan yang benar. Lebih-lebih lagi perjalanan hidup berliku yang ditempuhi setiap insan menuntut ketabahan, kesabaran dan pertolongan Ilahi supaya dia berjaya dalam hidup. Oleh itu, Islam mensyariatkan amalan berdoa dan memohon petunjuk daripada Allah.
Hidayah petunjuk yang dianugerahkan Allah sebenarnya tidak boleh diukur berdasarkan keadaan lahiriah semata-mata. Sebaliknya, ia bergantung kepada keimanan dan ketakwaan yang bertapak kukuh dalam jiwa. Dalam arti kata lain, Allah mengurniakan hidayah kepada hamba yang beriman dan bertakwa. Hidayah Allah tidak ada kaitan dengan hubungan pertalian darah atau kekeluargaan. Seseorang yang taat dan hidup bahagia dengan hidayah Allah, tidak semestinya anaknya juga begitu. Contohnya, Nabi Nuh dan anaknya serta Nabi Muhammad SAW dengan bapa saudaranya, Abu Lahab.
Ada juga orang fasik yang sentiasa bergelumang dosa tetapi anaknya seorang yang salih dan patuh ajaran Islam. Ini berlaku kepada Nabi Ibrahim dengan ayahnya, pengukir patung berhala. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyangka orang yang selalu melakukan kejahatan tidak akan mendapat hidayah Allah kerana hanya Allah yang berkuasa memberi hidayah kepada sesiapa dikehendaki-Nya. Nabi dan rasul, tugasnya menyampaikan kerana tidak ada siapa yang dapat memberi petunjuk melainkan Allah.
Firman Allah yang bermaksud: “Tidaklah kamu diwajibkan (wahai Muhammad) menjadikan mereka (yang kafir) mendapat petunjuk, (kerana kewajibanmu hanya menyampaikan petunjuk) akan tetapi Allah juga yang memberi petunjuk (dengan memberi taufik) kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya). Dan apa juga harta halal yang kamu belanjakan (pada jalan Allah) maka (faedahnya dan pahalanya) adalah untuk diri kamu sendiri. Dan kamu pula tidaklah mendermakan sesuatu melainkan kerana menuntut keredaan Allah. Dan apa juga yang kamu dermakan dari harta yang halal akan disempurnakan (balasan pahalanya) kepada kamu, dan (balasan baik) kamu (itu pula) tidak dikurangkan.” (Surah al-Baqarah, ayat 272).
Hidayah dalam arti bahasa arab memiliki dua arti, diantaranya adalah: pertama hidayah yang berupa petunjuk. Yang dimaksud hidayah dengan makna ini adalah, bahwa manusia diberi petunjuk dan pengetahuan tentang jalan yang benar. Hal tersebut Allah wujudkan dengan menurunkan kitab-kitab-Nya serta para rasul-Nya untuk menjelaskan ajaran Allah Ta’ala. Maka dalam kontek ini, hidayah Allah telah diturunkan pada semua hamba-Nya baik yang beriman maupun yang kafir. Sebagaimana firman Allah: 
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah: 185) Firman Allah juga:
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk”.(al-Fusilat: 17)
Dari sisi ini pula, hidayah selain dari Allah dapat juga berasal dari para Rasul dan para pengikutnya, dari al-Qur’an atau segala apa saja yang dapat menunjukkan seseorang kepada jalan Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman:
 وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”.(asy-syura: 52)
Rasulullah SAW bersabda:
لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“sungguh petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang (hingga Ia masuk Islam) melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh nikmat yang melimpah ruah dari unta merah.”
Al-Qur’an juga dapat menjadi hidayah, sebagaimana firman Allah:
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَاناً لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (an-Nahl: 89).
Yang kedua adalah taufiq, yang dimaksud taufiq di sini adalah ditutupnya jalan menuju keburukan dan dimudahkannya jalan kebaikan oleh Allah Ta’ala kepada seorang hamba. Artinya seorang tersebut diberikan ilham oleh Allah Ta’ala sesuai kehendak Allah dalam syare’at-Nya; baik dalam keimanan maupun dalam amal perbuatan. Hidayah dengan makna seperti ini, mutlak hanya milik Allah dan hanya Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki. Tidak seorangpun dari makhlukNya yang memiliki hak ini, bahkan sekalipun Rasulullah SAW.
Allah berfirman:
لَّيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ
“Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. (al-Baqarah: 272).
B.  Macam-Macam Hidayah
1.      Hidâyah al-ilham al-Fithri
Hidâyah yang diberikan Allâh sejak manusia baru lahir, sehingga butuh dan bisa makan dan minum. Seorang bayi suka menangis jika lapar atau dahaga, padahal tidak ada yang mengajarinya. Tanpa melalui proses pendidikan, bayi juga bisa tertawa tatkala bahagia. Hidâyah ini diberikan oleh Allâh tanpa usaha dan tanpa permintaan manusia.
2.      Hidâyah al-Hawas
 Hidâyah ini diberikan Allâh kepada manusia dan hewan. Bedanya kalau kepada hewan diberikannya secara sekaligus, dan sempurna sejak dilahirkan induknya. Sedangkan pada manusia hidâyah al-hawas diberikan secara berangsur. Dengan hidayah ini, manusia bisa membedakan rasa asin, pahit, manis, enak, lada, bau, harum, kasar atau pun halus, tanpa melalui peroses pembelajaran. Pembelajaran dalam hal ini berfungsi untuk memfungsikan Hidâyah al-Hawas secara optimal. ini dikenal juga dengan Panca-Indra yang terdiri atas: lidah sebagai alat rasa; mata sebagai alat melihat; telinga sebagai alat mendengar; hidung sebagai alat hirup yang mengetahui bau atau harum; dan kulit bisa merasa panas, dingin atau keras dan lunak . Itu semua termasuk hidâyah al-hawas.
3.      Hidâyah al-’Aqli
Seorang manusia, bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, karena ia diberi hidâyah al-’aqli . Jadi fungsi hidayatul-Aqli adalah untuk meluruskan pandangan hidâyah al-ilham dan hidâyah al-hawas yang kadang-kadang salah tanggapannya.
4.      Hidâyah al-Din atau hidâyah diniyah atau hidâyah syar’iyah
 Ialah petunjuk Allâh berupa ajaran dan hukum-hukum yang meluruskan kekeliruan yang muncul akibat aqal yang dipengaruhi nafsu. Untuk meluruskan pendapat akal itu, maka Allâh memberi manusia Hidâyah al-Din pedoman hidup yang berfungsi membimbing manusia ke jalan yangbenar. Allâh berfirman :  وَ هَــدَ يْنَــاهُ النَّجْــدَ يْنِ  
“Dan telah Kami beri petunjuk dua jalan hidup” (Qs. QS Al Balad (90):10)
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa menurut ayat ini, Allâh memberikan jalan hidup itu terdiri atas baik dan yang buruk. Manusia dengan aqalnya dipersilakan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Hidâyah al-din membimbing manusia untuk mengambil jalan yanglurus. Namun hidayah ini tidak bisa diperoleh manusia tanpa melalui peroses pembelajaran. Hanya orang yang mempelajari syari'ah, yang meraih hidâyah al-Din.   
إِنَّ هَذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih, sesungguhnya bagi mereka itu pahala yang maha besar”. (QS. AlIsra (17): 9) Sesungguhnya Allâh telah memberikan penjelasan sejelas-jelasnya, bahwa Al-Qur’an itu memberipetujuk ke jalan yang lurus, baik dan mencapai bahagia paripurna.
5.      Hidayat al- Taufiq
Allâh memberikan hidâyah yang tersebutdi atas , Hidayatul Ilham, Hidayatul-hawas dan Hidayat al-Din Wasyara’i , kepada menusia berlaku umum. Setiapmanusia menerima hidâyah ilham, hidâyah hawas, hidâyah aqal . Kemudian hidâyah diniyah , bisa diperoleh melalui pembelajaran. Namuntidak setiap manusia mendapat hidâyah al-taufîq , walau belajar atau diajari. Tidak sedikit manusiamasih senang memilih jalan yang bertentangan dengan aturan Allâh , walau sudah memiliki hidâyah al-Din melalui juru da'wah.وَ أَمَّا ثَمُودُ فَهَدَ يْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى فَأَخَذَتْهُمْ صَاعِقَةُ الْعَذَ ابِ الْهُونِ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ Pada kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk, namun mereka mengambil jalan buta kesesatan dan meninggalkan petunjuk itu. Maka mereka disambar petir sebagai siksa yang menghina kan, akibat dari perbuatan mereka (Qs. Fushilat ( 41 ) : 17) Dengan demikian orang yang menemukan hidâyah al-Din, tidak dijamin berakhlaq benar. Tidak sedikit, orang yang faham tentang hukum agama, tapi akhlaqnya buruk.
C.  Karakteristik Orang-Orang Yang Akan Mendapatkan Hidayah Allah
1.    Orang Muslim yang menyerahkan diri kepada Allah: (QS. Ali imran: 20)
    فَإنْ حَآجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوْتُواْ الْكِتَابَ وَالأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُواْ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاَغُ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
 “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), Maka Katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. dan Katakanlah kepada orang-orang yang Telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi : “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. jika mereka masuk islam, Sesungguhnya mereka Telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, Maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali imran: 20).
2.    Orang yang beriman dan beramal shaleh: (QS. Yunus: 9) dan (QS. Al-Baqarah: 137)
      إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِن تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya , di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam syurga yang penuh keni’matan.” (QS. Yunus: 9). Firman Allah juga:
      فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 137).
3.    Orang yang berjihad di jalan Allah: (QS. Al-angkabut: 69)
      وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-angkabut: 69).
4.    Orang yang beriman dan taat mengikuti Rasulullah: (QS. An-Nuur: 54)
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِن تَوَلَّوا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Katakanlah: “Ta’at kepada Allah dan ta’atlah kepada rasul. dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”.(QS. An-Nuur: 54)
5.    Orang yang takut kepada Allah: (QS. Al-Baqarah: 150)
وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي وَلأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan ni’mat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.
6.    Orang yang tidak mengikuti hawa nafsu mereka: (QS. Al-Qoshas: 50)
فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
7.      Orang yang bersabar: (QS. Al-Baqarah: 177)
لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 177).
8.     Orang yang bertakwa kepada Allah: (al-Baqarah: 1-2)
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Alif laam miin. Kitab (Al Quraan) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”.(al-Baqarah: 1-2).
BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pada dasarnya kata hidayah ini merupakan bahasa arab yang terambil dari kata hada-yahdi-hadyan, hudan, hidyatan, atau hidayatan. Karena lafadz hidayatan diwa­qof-kan maka dibaca hidayah. Yang artinya petunjuk. Namun secara istilah pengertian hidayah yaitu penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Dalam hidayah ini juga terdapat macam-macamnya. Diantara  macam-macam hidayah yaitu :  1. Hidâ-yah al-ilham al-Fithri yaitu hidâyah yang diberikan Allâh sejak manu-sia baru lahir, sehingga butuh dan bisa makan dan minum. Seorang bayi suka menangis jika lapar atau dahaga, padahal tidak ada yang mengajarinya. 2. Hidâyah al-Hawas,  hidâyah ini diberikan Allâh kepada manusia dan hewan. Bedanya kalau kepada hewan diberikannya secara sekaligus, dan sempurna sejak dilahirkan induknya. 3. Hidâyah al-’Aqli, Seorang manusia, bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, karena ia diberi hidâyah al-’aqli. 4. Hidâyah al-Din atau hidâyah diniyah atau hidâyah syar’iyah,  ialah petunjuk Allâh berupa ajaran dan hukum-hukum yang meluruskan kekeliruan yang muncul akibat aqal yang dipengaruhi nafsu.
Dalam hidayah ini juga terdapat karakteristik orang-orang yang bisa mendapatkan hidayah itu sendiri. Diantaranya yaitu : Orang Muslim yang menyerahkan diri kepada Allah, Orang yang beriman dan beramal shaleh, Orang yang berjihad di jalan Allah, Orang yang beriman dan taat mengikuti Rasulullah, Orang yang takut kepada Allah, Orang yang tidak mengikuti hawa nafsu mereka, Orang yang bersabar, Orang yang bertakwa kepada Allah.



B.  Saran
Melalui makalah yang sederhana ini pemakalah berharap para pembaca bisa memahami secara pasti akan pengertian hidayah dan pengertian dari dhalalah itu sendiri. Agar dimasa yang akan datang tidak ada lagi pemahaman yang salah dalam mengartikan hidayah. Hingga karena pemahaman yang salah itu banyak dikalangan umat yang menunggu datangnya hidayah tanpa berusa mengubah perilakunya sendiri terlebih dahulu. Mungkin dalam penulisan makalah ini banyak ditemukan kekurangan ataupun ada pembahasan yang kurang mengena, dari itu penulis berharap kritik dan saran dari pembaca khususnya dosen pengampu dalam mata kuliah filsafat dakwah ini. Agar kedepannya penulis dapat membuat suatu makalah yang lebih baik lagi.




DAFTAR PUSTAKA